Kamis, 17 Desember 2009

SEJARAH SEPEDA LAWAS


Sejarah Sepeda Lawas
Namanya Ontel, Jengki, Kumbang dan Sundung


JAKARTA – Sejarah sepeda lawas bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibangun di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan, betapa canggung dan besar tampilan kedua sepeda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang – pada masa itu – untuk berjalan.
Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais. Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman berhasil melakukan terobosan penting, yang ternyata merupakan peletak dasar perkembangan sepeda selanjutnya.
Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki, Von Drais mampu meluncur lebih cepat saat berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama, Draisienne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada 1817.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan. Pada tahun 1839, ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.
James Starley mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yang sangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil. Sepeda jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent. Sampai kini, kedua teknologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karena posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya. Sampai akhirnya, keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada 1886. Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.


D. Rahayuningsih
Inilah salah satu contoh aksesori tambahan yang sudah amat langka. Lampu sepeda yang memakai energi minyak tanah ini sangat sulit untuk dijumpai. Untuk memburunya dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan yang amat tinggi.

Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada 1888. Dunlop berhasil menemukan teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat. Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan.
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh kaum penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transpor yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik. Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950-an. Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya.
”Sepeda yang dimiliki klub ini sangat berbeda dengan sepeda kuno yang banyak dijadikan ojek. Kalau ojek-ojek itu kebanyakan sepeda model kuno keluaran Cina atau Jepang. Dan mereka nggak merawatnya dengan khusus,” ungkap Agus Pranoto (28), anak muda yang juga hobi jalan-jalan dengan sepeda lawas.
Di masyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang dan sundung. ”Tapi semuanya punya maksud yang sama, sepeda dengan model tinggi. Kalau jengki itu kan asalnya dari kata jingke (bahasa Betawi, artinya berjinjit), jadi waktu naiknya kita harus berjingke saking tingginya. Kalau ontel, ya artinya diontel atau dikayuh,” papar Agus.
Di Jakarta, ada satu klub sepeda lawas yang tetap eksis hingga kini. Namanya, Perkumpulan Sepeda Tempo Doeloe Batavia, Silang Monas. ”Awal berdirinya pada tanggal 23 Maret 1991 di Jakarta. Waktu itu cuma ada saya, Pak Triyono Abidin, Pak Bariman, Iyan, Sundopo, Darjo dan Pak Mohamad Sani,” kisah H. Abdullah (56) pemilik sepeda lawas merek Raleigh 1951.
Dari kumpul-kumpul beberapa orang tadi mereka terus merekrut beragam anggota baru. Tiap hari Minggu, mereka selalu berkumpul di pelataran Silang Monas. Di jantung Ibu Kota itu mereka berkumpul dahulu sebelum memutuskan berkeliling kota. Berminat?
Syaratnya gampang. ”Yang penting Anda punya sepeda ontel (lawas) yang bisa jalan ya silakan gabung,” ujar H. Abdullah sambil tersenyum. Dengan agak terburu-buru, bapak separuh baya ini siap-siap mengayuh sepedanya merek Raleigh. Ia ingin menyusul rekan-rekannya yang sudah terlebih dulu berjalan menuju Bundaran Hotel Indonesia. Rencananya, di HI mereka akan berputar-putar sebentar sebelum pulang ke rumah masing-masing. (str/bayu dwi mardana)

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/102/hob2.html

SEJARAH TENTANG ZOMBIE


sejarah zombie!!!!
Zombie adalah manusia yang telah mati tetapi mayatnya bangkit kembali. Legenda Zombie berasal dari kepercayaan Afro-Karibia
yang lebih dikenal dengan Voodoo, memaparkan bahwa manusia yang telah mati bisa dikendalikan dan digunakan sebagai budak oleh penyihir (bokor) yang kuat. Zombie mulai populer ketika diangkat dalam film horor Night of the Living Dead pada tahun 1968. Terdapat beberapa etimologi yang mengacu pada asal kata zombie. Salam satunya adalah jumbie, diambil dari bahasa Indian Barat yang berarti hantu. Asal kata lainnya adalah nzambi, berasal dari bahasa Kongo yang berarti 'arwah dari orang mati'. Menurut kamus Merriam-Webster, kata zombie mulai dimasukkan dalam kosakata bahasa Inggris di tahun 1871, berasal dari kata zonbi yang artinya orang dipercaya telah mati dan bangkit kembali tanpa bisa berbicara atau memiliki akal budi.
In Voodoo
Menurut kepercayaan Voodoo, orang yang telah mati dapat diterima oleh bokor atau penyihir voodoo. Zombie akan tetap berada di bawah pengendalian bokor karena tidak lagi memiliki keinginan. 'Zombi' juka menjadi julukan untuk dewa ular Voodoo yakni Damballah Wedo. Dalam bahasa asli Niger-Congo, kata nzambi berarti dewa. Yang juga exist dalam tradisi Voodoo adalah bahwa energi kehidupan zombie, yaitu arwah manusianya sendiri, ditahan oleh bokor untuk meningkatkan kekuatan sihirnya. Di tahun 1937, ketika meneliti kehidupan masyarakat asli di haiti, Zora Neale Hurston menemui kasus dimana seorang wanita muncul di sebuah desa dimana keluarganya mengklaim wanita itu adalah Felicia Felix-Mentor, seorang relawan yang telah meninggal dan dikuburkan di umur 29. Hurston berspekulasi bahwa wanita misterius tersebut dibangkitkan kembali bukan dengan upacara ritual tetapi dengan obat-obatan tradisional tertentu, tetapi ia gagal menemukan bukti yang kuat.
Beberapa dekade kemudian, Wade Devis, seorang ethobotanist dari Harvard, mempresentasikan sebuah kasus farmakologi mengenai zombie dalam 2 buku yakni The Serpent and The Rainbow(1985) dan Passage of Darkness: The Ethnobiology of the Haitian Zombie(1988). Davis berkelana ke Haiti di tahun 1982, dan sebagai hasil investigasinya ia mengklaim bahwa seorang manusia hidup dapat diubah menjadi zombie dengan menggunakan 2 bubuk spesial yang masuk ke dalam saluran darah. Bubuk pertama bernama coup de poudre (bahasa Perancis dari 'powder strike') yang mengandung tetrodotoxin (TTX), dan terdapat dalam binatang pufferfish. Bukuk kedua adalah campuran serbuk tumbuhan yang salah satunya dinamai datura. Kedua bubuk tersebut bisa mengubah manusia normal ke dalam kondisi 'mati', tidak berkeinginan dan pucat. Gejala keracunan TTX memiliki ciri tubuh kaku, pusing, pingsan sampai dengan kematian. Menurut neurologist bernama Terence Hines, komunitas sains dilarang memakai tetrodoxin karena efeknya yang berbahaya.
In Folklore
Di abad pertengahan, kepercayaan bahwa arwah orang yang telah mati dapat kembali ke bumi dan menghantui manusia yang masih hidup sangatlah umum. Kepercayaan ini banyak ditulis pengarang kontemporer Eropa seperti William of Newburgh serta Walter Map. Menurut Ensiklopedia Things that Never Were dari Perancis, arwah-arwah yang kembali ke bumi pada umumnya bertujuan membalas dendam atas ketidakadilan yang diterima semasa hidup. Mereka terlihat seperti tengkorak manusia atau mayat yang telah busuk, lalu berkeliaran tengah malam di sekitar perkuburan. Draugr dari mitologi Nurse abad pertengahan juga dipercaya sebagai mayat para prajurit yang bangkit dan dapat menyerang. Selain di Eropa, legenda zombie juga terdapat di seluruh dunia. Sebut saja Cina, Jepang, India, Persia, Arab, sampai suku asli Amerika.
In Popular Culture
Zombie modern, seperti yang banyak ditampilkan dalam buku, film, game, dan lainnya., sangat berbeda dari voodoo zombie maupun legenda zombie asli. Zombie yang dikenal saat ini dedefinisikan sebagai monster tak berperasaan, tidak berakal budi, serta memiliki rasa lapar akan daging atau darah manusia yang hidup. Konsep zombie modern mulai mencuat sejak film Night og the Living Dead dirilis dimana mereka dapat melukai bahkan membunuh manusia yang hidup, dan manusia yang digigit biasanya akan berubah menjadi zombie juga. Mereka pada umumnya tercipta dari wabah penyakit atau terkena cairan kimia tertentu yang membuat manusia normal berubah menjadi zombie. Night of the Living Dead(1981 menjadi film pertama yang mengangkat ide gas mutagenic sebagai penyebab berubahnya seseorang menjadi zombie, yang keemudian ditiru oleh Trioxin buatan Dan O'Bannon pada tanun 1985. Zombie modern digambarkan sebgai mayat hidup dengan wajah pucat, bola mata berwarna putih, lamban dan lusuh. Tapi film seperti 28 Days Later, Dawn of the Dead atau House of the Dead menggambarkan zombie yang bisa bergerak lincah.

Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?p=132801077#post132801077